Persamaan dan Perbedaan Kota Pompeii Di Italia dan Legetang di Dieng

Masyarakat Pompeii



           Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja. Semenjak itu penggalian kembali kota ini memberikan pemandangan yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi. Saat ini kota Pompeii merupakan salah satu dari Situs warisan dunia UNESCO.

                 Kota Pompeii, dahulu daerah ini makmur dan maju dibawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Sehingga sebagian besar penduduknya hidup dalam kemakmuran lantaran kondisi tanah dan iklim sangat baik untuk melakukan kegiatan pertanian. Kota Pompeii sendiri memiliki permukaan tanah yang tidak datar, hal itu dikarenakan Pompeii terletak di kaki gunung Vesuvius. Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut.
        Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Perilaku kebiadaban masyarakat kota pompeii merupakan sebuah simbol dari degradasi akhlak yang dialami oleh kekaisaran bangsa romawi. Dimana perilaku masyarakat kota pompeii mirip dengan perilaku kaum sodom. Kota pompeii adalah pusat perzinaan dan homoseks masa lalu. Catatan sejarah telah memperlihatkan bahwa kota pompei ternyata merupakan pusat kemaksiatan terbesar. Kota pompeii dipenuhi oleh lokasi-lokasi perzinahan. Begitu banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Dimana organ-organ kemaluan dengan ukuran seperti aslinya bergantungan pada pintu-pintu rumah bordil yang ada di kota pompeii.


                Kaum pompeii sebagai penganut kepercayaan Mithraic beranggapan bahwa organ-organ seksual dan hubungan seksual adalah sesuatu yang dianggap bukan hal yang tabuh dan perilaku seksual tidak untuk dilakukan ditempat yang tersembunyi. Menurut kepercayaan mithraic yang dianut oleh masyarakat pompei ini hendaknya perilaku seksual itu dipertontonkan secara terbuka. Namun seiring berjalan waktu, kota Pompeii diibaratkan seperti kaum sodom yang hidup di zaman nabi Luth. Pada tahun 24 Agustus 79 Masehi, gunung Vesuvius meletus diiringi hujan debu, awan panas serta lava pijar. Hanya sebagian orang yang segera menyelamatkan diri saat letusan pertama, berhasil selamat. Awan panas yang muncul setelah kubah lava runtuh memanggang Pompeii, dan hujan abu vulkanik mengubur penduduk hidup-hidup. Keterkejutan terlihat jelas dalam ekspresi mayat-mayat membatu yang ditemukan di Pompeii.

Masyarakat Legetang


          Mendengar nama kaum Sodom dan Gomorah tentunya akan teringat mengenai kisah di zaman Nabi Luth mengenai dua kota yang hancur akibat dilaknat Allah SWT. Kedua kota tersebut hancur karena penduduknya kerap melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT seperti mabuk-mabukan, berzina, dan berjudi. Dalam bahasa Ibrani, Sodom berarti terbakar sementara Gomorah adalah terkubur. Memang itu yang terjadi pada kota itu, terbakar dan terkubur. Ternyata kisah nyata mengenai kota atau daerah yang hancur akibat penduduknya kerap berbuat maksiat juga terdapat di Kabupaten Banjarnegara. Daerah yang hilang akibat bencana tanah longsor yaitu Dusun Legetang yang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng.

       Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).
        Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang. 
         Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. 
       Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?
Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955”

Sumber :














Comments

Popular Posts