Persamaan dan Perbedaan Kota Pompeii Di Italia dan Legetang di Dieng
Masyarakat Pompeii
Pompeii adalah sebuah
kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada
di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh
letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Debu letusan gunung
Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki
menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan
tidak sengaja. Semenjak itu penggalian kembali kota ini memberikan pemandangan
yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi. Saat ini kota Pompeii merupakan salah satu dari Situs warisan dunia UNESCO.
Kaum
pompeii sebagai penganut kepercayaan Mithraic beranggapan bahwa organ-organ
seksual dan hubungan seksual adalah sesuatu yang dianggap bukan hal yang tabuh
dan perilaku seksual tidak untuk dilakukan ditempat yang tersembunyi. Menurut
kepercayaan mithraic yang dianut oleh masyarakat pompei ini hendaknya perilaku
seksual itu dipertontonkan secara terbuka. Namun seiring berjalan waktu, kota
Pompeii diibaratkan seperti kaum sodom yang hidup di zaman nabi Luth. Pada
tahun 24 Agustus 79 Masehi, gunung Vesuvius meletus diiringi hujan debu, awan
panas serta lava pijar. Hanya sebagian orang yang segera menyelamatkan diri
saat letusan pertama, berhasil selamat. Awan panas yang muncul setelah kubah
lava runtuh memanggang Pompeii, dan hujan abu vulkanik mengubur penduduk
hidup-hidup. Keterkejutan terlihat jelas dalam ekspresi mayat-mayat membatu
yang ditemukan di Pompeii.
Masyarakat Legetang
Mendengar nama kaum Sodom dan Gomorah tentunya
akan teringat mengenai kisah di zaman Nabi Luth mengenai dua kota yang hancur
akibat dilaknat Allah SWT. Kedua kota tersebut hancur karena penduduknya kerap
melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT seperti mabuk-mabukan, berzina,
dan berjudi. Dalam bahasa Ibrani,
Sodom berarti terbakar sementara Gomorah adalah terkubur. Memang itu yang
terjadi pada kota itu, terbakar dan terkubur.
Ternyata kisah nyata mengenai kota atau daerah yang hancur akibat
penduduknya kerap berbuat maksiat juga terdapat di Kabupaten Banjarnegara. Daerah yang hilang akibat bencana
tanah longsor yaitu Dusun Legetang yang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan
Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng.
Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2
km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya
masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya.
Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh
Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen
berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun
barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi
yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).
Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur.
Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok
untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah
kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada
perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah
sedemikian parah di dukuh Legetang.
Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang
tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara
“buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya
masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras
itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya:
tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.
Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan
tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh
penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun
sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi
kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang,
yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu
terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo
gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?
Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu
tersebut ditulis dengan plat logam:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19
ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN
PADA TG. 16/17-4-1955”
Sumber :






Comments
Post a Comment