DIGITAL CINEMA: Virtual Screens (Michael Allen)



Assalamu'alaikum Wr.Wb.

hallo semua.. Pada membahasan kali ini saya akan membahas menganai Digital Cinema : Virtual Screens . saya sendiri juga masih belum paham menganai Digital Cinema : Virtual Screens, dan kita akan sama - sama belajar mengenai pembahasan kali ini. pada blog saya kali ini merupakan tugas dari mata kuliah Pengantar Teknologi Internet dan New Media.  Pada Jaman yang semodern ini, kalian pasti mengenal hal yang berhubungan internet dan media sosial, kalian pasti bisa dan dapat menggunakannya. semakin hari teknologi akan semakin canggih, semakin tahun bertambah akan semakin banyak pula keluaran - keluaran terbaru yang membuat teknologi semakin canggih dan maju. Di negara kita sendiri pasti kalian menyadari betapa majunya teknologi di negara ini. Orang - orang akan berlomba - lomba untuk mencari tau mengenai teknologi terbaru, katanya si supaya tidak ketinggalan jaman... agar wawasan kita lebih luas lagi, yuk.. mari kita pelajari menganai teknologi jaman sekarang di dalam bidang perindustrian film yaitu Digital Cinema : virtual Screen.

DIGITAL CINEMA: Virtual Screens (Michael Allen)

  Michael Allen adalah Dosen di Film dan Media Elektronik di Birkbeck College, University of London. Publikasi-nya termasuk monografi Family Secrets: The Feature Films of D.W. Griffith (BFI 1999), Bioskop AS Kontemporer (Pearson 2003) dan koleksi yang diedit Membaca CSI: Televisi Crime Under the Microscope (I.B. Tauris 2007). Dia juga telah menerbitkan banyak artikel tentang sejarah teknologi media, dan saat ini sedang menyelesaikan sebuah buku tentang pembuatan film dan televising dari Space Race.

  Sinema digital merujuk pada penggunaan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak. Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keras, piringan optik atau satelit serta ditayangkan menggunakan proyektor digital alih-alih proyektor film konvensional. Sinema digital berbeda dari HDTV atau televisi high definition. Sinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standar HDTV, aspek rasio atau peringkat bingkai. Proyektor digital yang memiliki resolusi 2K mulai disebarkan pada tahun 2005, dan sejak tahun 2006 jangkauannya telah diakselerasi.

  Film sutradara George Lucas telah terkenal dikutip mengatakan bahwa film adalah abad kesembilan belas menengah, dikembangkan dari fotografi baik melalui media massa menggunakan strip seluloid untuk menangkap dan merekam gambar mereka. teknologi ini membentuk dasar untuk film, pembuatan film dan bioskop untuk sekitar seratus tahun, dari perkembangan pertama, yang disebut oleh Lucas, pada akhir abad kesembilan belas, sampai akhir abad kedua puluh. Lucas komentar, dalam fitnah yang dari ‘sejarah kuno’ dari seluloid, menunjukkan realitas baru, pengganti untuk seluloid, suatu baru awal untuk pembuatan film dan bioskop: sinema digital. Dalam 20 tahun terakhir atau lebih, teknologi digital, teknik dan estetika visual memiliki efek besar pada semua tahap pembuatan film dan proses distribusi. ‘Digital bioskop adalah di atas semua konsep, sistem yang lengkap, mencakup seluruh produksi film rantai dari akuisisi dengan kamera digital untuk pasca produksi hingga distribusi ke pameran, semua dengan bit dan byte bukan 35mm gulungan “(Michel 2003). Bab ini menawarkan gambaran dari perubahan ini, menjelaskan kerja dasar teknologi dan pemetaan berbagai praktik yang telah terkena dampak sebagai akibat dari penampilan digital.


Digital produksi dan pasca produksi

  Sampai saat ini, proses pembuatan film yang sebenarnya dari sebuah produksi film telah dilakukan dengan menggunakan tradisional Film kamera 35mm atau 70mm menggunakan tabung dari seluloid. gambar kualitas yang dihasilkan oleh kamera digital dirasakan secara signifikan lebih rendah dari film, dan sebagainya, sementara rekaman film itu semakin dimasukkan ke dalam komputer untuk manipulasi pasca produksi, proses produksi itu sendiri tetap seluloid berbasis. Film digital dimulai, dalam teori, pada akhir 1980-an, ketika Sony datang dengan pemasaran konsep ‘sinematografi elektronik’. Inisiatif ini gagal lepas landas dengan profesional dan publik sama, dan hanya pada akhir 1990-an, dengan pengenalan perekam HDCAM dan penggantian nama dari proses untuk ‘sinematografi digital’, bahwa membuat film menggunakan kamera digital dan peralatan terkait dan pada akhirnya mulai mengambil alih untuk semua proses pembuatan film.
 
    George Lucas merupakan orang yang sangat berperan dalam melahirkan teknologi baru ini, ketika pada tahun 2001 dia menggarap sebuah film berjudul star wars, dengan meggunakan Sony HDW-F900 HDCAM yang dilengkapi dengan lensa panavision camcorder high-end. High-end kamera menggunakan sensor tunggal yang ukurannya hampir setara dengan 35mm frame. Selain itu, pengambilan gambar dalam format HDTV progresif memberikan gambar yang berukuran 720-1080 pixel. Penggunaan teknologi digital dalam proses produksi memberikan keuntungan, bila sebelumnya dalam penggarapan sebuah sinema, sinema harus dibuat dengan pita seluloid yang harganaya amat mahal. Pita seluloid 35 mm satu rollnya berharga empat juta dan hanya mampu merekam sepanjang empat menit. Berarti untuk membuat sinema berdurasi seratus menit dibutuhkan dana yang sangat besar. Sedangkan biaya untuk proses pembuatan secara digital  dibutuhkan dana yang jauh lebih rendah dibanding mengunakan pita seluloid. Untuk proses pengeditan secara digital, file bisa disimpan kedalm hardisk atau memori flash. Selain itu file nya bisa didownload dengan menggunakan sistem RAID (Redundant Array of Inexpensive/Drives independen/Disk).

    Namun disisi lain, walau sinema digital memiliki keuntungan dalam tahap produksi dan pascaproduksi namun penayangannya masih menjadi hambatan. Sebagian besar bioskop masih menggunakan teknologi pemutar sinema seluloid. Satunya-satunya cara agar sinema digital bisa diputar di bioskop hanyalah dengan mencetaknya kembali dalam pita seluloid. Sedangkan tidak semua sinema digital yang berformat video bisa ditransfer menjadi seluloid karena standar video


Perbedaan sinema digital sinema konvensional

  Sinema digital hanya berbeda dengan sinema konvensional dalam hal visualisasi dan suara. Visualisasi sinema digital sudah sangat jernih seperti anda melihat gambar bergerak di televisi, sementara sinema konvensional yang menggunakan media pita seluloid, memiliki struktur visualisasi berupa titik-titik. Untuk kualitas suara, sinema digital menggunakan sistem suara surround (biasanya Dolby Surround) dan kualitas suara sudah ditingkatkan. Sementara sinema konvensional, sudah menggunakan sistem suara surround, tetapi kualitas suara yang dihasilkan jauh berbeda dengan sinema digital.

Berikut ini perangkat yang sering digunakan dalam proses pembuatan film :

  • Kamera untuk sinema digital

    Pada tahun 2007, medium pengalihan paling umum bagi fitur yang ditayangkan secara digital adalah pita film 35 mm yang dipindai dan diproses pada resolusi 2K (2048×1080) atau 4K (4096×2160) lewat penengah digital. Kebanyakan fitur digital saat ini sudah bisa merekam pada resolusi 1920x1080 menggunakan kamera seperti Sony CineAlta, Panavision Genesis atau Thomson Viper. Kamera-kamera baru seperti Arriflex D-20 dapat menangkap gambar dengan resolusi 2K, dan kamera bernama Red One keluaran perusahaan Red Digital Cinema Camera Company dapat merekam dengan resolusi 4K. Penggunaan proyeksi 2K pada sinema digital telah mencapai lebih dari 98 persen. Baru-baru ini perusahaan Dalsa Corporations Origin mengembangkan kamera yang dapat merekam dengan resolusi 4K RAW. Selain itu, ada jenis kamera lain yang dapat merekam dengan resolusi 5K RAW seperti RED EPIC. Ada juga kamera yang dapat merekam dengan resolusi 3K RAW (untuk menyesuaikan dengan anggaran pembuat film ) seperti RED SCARLET
  • Proyektor sinema digital

    Untuk menayangkan sinema digital, diperlukan proyektor yang berbeda dengan proyektor untuk menayangkan sinema konvensional. Terdapat dua jenis proyektor yang dapat digunakan untuk menayangkan sinema digital, yaitu proyektor DLP dan DCI. Proyektor DLP dikembangkan oleh perusahaan Texas Instrument. Ada tiga pabrik yang telah memiliki lisensi untuk memproduksi teknologi sinema DLP yaitu Christie Digital Systems, Barco, dan NEC. Christie, yang telah lama berdiri sebagai pabrik teknologi proyektor sinema konvensional, adalah pembuat proyektor CP2000—bentuk dasar proyektor yang paling banyak tersebar secara global (total kira-kira 5,500 unit). Barco meluncurkan seri DLP dengan resolusi 2K yang masih kalah dengan proyektor sinema digital DCI. Barco juga merancang dan mengembangkan produk proyektor dengan tingkat visualisasi berbeda bagi pembuat film profesional. NEC memproduksi Starus NC2500S, NC1500C dan NC800C proyektor 2K bagi layar kecil, medium dan besar. NEC juga memproduksi sistem penyedia sinema digital Starus dan alat-alat lain untuk menghubungkan dengan computer, tape analog atau digital, penerima satelit, DVD dan lain-lain. Sementar NEC adalah pendatang baru dalam industri proyektor sinema digital, Christie adalah pemain utama dalam pasar Amerika Serikat. 

    Sedangkan Barco memimpin pasar Eropa dan Asia. Ketika perusahaan Texas Instrument pertama kali memperkenalkan teknologi proyektor 2K, perusahaan proyeksi digital merancang dan menjual banyak unit proyektor sinema digital DLP. Ketika proyektor dengan resolusi melebihi proyektor 2K dikembangkan, pasar mulai menawarkan proyektor berbasis DLP bagi tujuan non-sinema. Pada januari 2009, lebih dari 6000 sistem sinema digital berbasis DLP dipasang di seluruh dunia, di mana sebanyak 80 persen berlokasi di Amerika utara. Teknologi penayangan sinema digital lainnya dibuat oleh perusahaan Sony dan diberi label teknologi "SXRD" . Proyektor-proyektor SXRD seperti SRXR210 dan SRXR220, menawarkan resolusi 4096x2160 (4K) dan memiliki piksel empat kali lebih banyak daripada proyektor 2K. Proyektor sinema digital Sony juga memiliki harga yang kompetitif dengan proyektor DLP 2 K yang memiliki resolusi lebih rendah (2048x1080 atau setara dengan 2.2 megapiksel). Sekarang, hampir semua sinema digital menggunakan proyektor dengan teknologi DLP
  • Sound System 
    Terintegrasi dengan mudah dengan otomatisasi yang ada dan sistem suara, memberikan kualitas gambar dan suara yang luar biasa menakjubkan.Dan Dolby Digital Cinema memenuhi spesifikasi kunci DCI sambil memberikan operasi sederhana, kehandalan yang luar biasa, dan tingkat keamanan tertinggi dalam bisnis. Sistem ini server digital pertama untuk mencapai Federal Information Processing Standards (FIPS) Tingkat 3 sertifikasi, memastikan tingkat tertinggi perlindungan anti pembajakan sebagaimana ditentukan oleh DCI. 

Contoh Cinema Digital



  Dolby ® Digital Cinema adalah solusi lengkap dan handal, dan fleksibel yang menggabungkan kemudahan pengoperasian dengan pengalaman pelanggan yang tak tertandingi. Penawaran yang luar biasa dengan gambar dan kualitas suara. Integrasi mudah dengan otomatisasi yang ada pada sistem suara. Memastikan fleksibilitas untuk memenuhi perubahan kebutuhan Anda dan melindungi investasi Anda selama bertahun-tahun yang akan datang Secara efisien memenuhi kebutuhan anda dengan mengelola dan menyajikan fitur memenuhi kunci Digital Cinema Initiatives (DCI).

    Dolby Digital Cinema dengan mudah dan otomatisasi dalam system suara, memberikan kualitas gambar dan suara yang luar biasa menakjubkan. Dolby Digital Cinema memenuhi spesifikasi kunci DCI yang memberikan kehandalan yang luar biasa, dan tingkat keamanan tertinggi dalam bisnis. Sistem server digital ini adalah yang pertama untuk mencapai Federal Information Processing Standards (FIPS) sertifikasi Tingkat 3, memastikan tingkat tertinggi dalam perlindungan anti pembajakan sebagaimana ditentukan oleh DCI.

Nahh.. mungkin itu saja yang bisa saya bagi mengenai teknologi jaman sekarang yang semakin canggih dan maju, semakin bertambahnya tahun teknologi tersebut sudah semakin berkembang dan akan banyak sekali ide - ide dan keluaran terbaru mengenai teknologi di industri film. dengan ada teknologi yang semakin canggih otak kita akan berpikir semakin maju dan berkembang, mungkin di antara kita akan menjadi seperti mereka yang meciptakan dan memajukan teknologi di dunia ini.
Tetep belajar, Tetap mencari tau dan yakin kita semua pasti bisa !!

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinema_digital
https://hendriprasetyo2496.blogspot.co.id/2015/11/digital-cinema.html?m=1
https://rifeka10.wordpress.com/2011/10/31/digital-culture-–-digital-cinema/amp/

Comments

Popular Posts